godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Uswah / Ini dia 9 Filosofi Jawa yang Sering diajarkan Sunan Kalijaga

Ini dia 9 Filosofi Jawa yang Sering diajarkan Sunan Kalijaga

Masyarakat muslim di Indonesia tentu banyak yang tidak asing dengan istilah ‘wali songo’. Tokoh yang memiliki peran sangat besar dalam menyebarkan Islam di tanah air Indonesia ini cukup dikenal karena caranya menyebarkan nilai-nilai Islam yang tidak melupakan atau menafikan kebudayaan lokal.
Salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Sosok yang konon nama beliau dikenal karena mengabdi pada sang guru dengan rela menunggu di tepian kali ini juga menyebarkan Islam dengan mengenalkan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup.
Apa saja nilai itu? Simak di bawah ini
 
1. URIP IKU URUP
Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik kualitas pribadi kita.
2. MEMAYU HAYUNING BAWANA
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Sehingga ketika ada keburukan atau perbuatan tercela di lingkungan sekitarnya, sepatutnya sebagai pribadi yang mulia tidak membiarkan itu berlanjut serta mengusahakan adanya kebaikan, tentunya dengan cara yang tepat.
3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Seperti kata pepatah, sekeras apa pun batu akan lapuk terkena air.
4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO
Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan.
Ini adalah nilai yang mengajarkan manusia untuk bersikap kesatria dalam melawan musuh sekaligus berjuang mengendalikan hawa nafsunya.
Dalam menghadapi musuh, jangan mengedepankan emosi, tapi juga harus memikirkan aspek fairness (bukan kelicikan atau ambil kesempatan). Kesatria, jika ia menang, tidak dengan mempermalukan.
Ketika bersikap, seorang kesatria berwibawa sebab kebijaksanaannya dalam memutuskan segala sesuatu. Ini tentu didapat jika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik, sehingga bisa mengantarkannya pada sifat-sifat mulia, termasuk akan merasa cukup dengan segala yang ia miliki (sugih tanpo bondo).
5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu
Dalam Islam, segala musibah termasuk sakit datang hanya dari Alloh swt dan atas izin-Nya. Dalam sebuah hadits, diceritakan bahwa Rasululloh saw menjelaskan ketika seorang mukmin tertusuk duri, menderita sakit, atau pun hatiya gelisah, di situlah Alloh swt mengampuni dosa-dosanya.
Meskipun ketika itu masyarakat negeri ini banyak yang belum mengenal Islam, tetapi sunan Kalijaga justru sudah menanamkan kepribadian mukmin ini.
6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN
Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja
Selain beberapa sifat yang sudah disebutkan, sosok pribadi yang mulia menurut Islam adalah yang tidak banyak mengeluh. Dalam kitab Nashooihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa siapa yang suka mengeluh pada manusia berarti dia tidak terima pada apa yang diberikan Alloh swt. kepadanya.
7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi
Nilai satu ini dikenal dalam Islam dengan istilah Zuhud, yakni tidak terobsesi pada dunia atau hanya menggunakan dunia ini hanya sebagian dari yang paling benar-benar ia butuhkan.
Meski demikian, Zuhud berkaitan dengan prinsip sebuah hadits untuk melakukan yang terbaik dalam semua hal yang kita lakukan (Lihat : Arbain Nawawi).
Jadi hendaknya setiap orang melakukan usaha yang terbaik yang ia mampu, namun menyerahkan hasilnya kepada Alloh swt tanpa terobsesi hal-hal duniawi, hanya melakukan terbaik untuk mendapat cinta dari Alloh swt.
8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
Gus Mus, salah satu ulama Indonesia pernah mengatakan bahwa semakin bertambah ilmu seseorang maka ia semakin merasa tidak tahu. Sedangkan ada pula perkataan ulama lainnya bahwa sekali seseorang merasa pintar maka terhentilah ilmunya (tidak akan bertambah).
9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti
Di atas langit ada langi, itu lah ibarat yang diucapkan orang bijak. Ternyata dalam Islam juga, Alloh mengajarkan kita untuk tidak merasa lebih baik dari lainnya.
Habib Novel Al-Aydrus Solo berkata ” Alloh mengingatkan kita ‘Siapa yang tawadhu (tidak sombong) Aku tinggikan derajatnya seketika itu. Siapa yang sombong (merasa lebih baik dari lainnya) Aku rendahkan derajatnya seketika itu juga”
Nah, ternyata filosofi yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga adalah nilai-nilai Islam. Meski tidak memakai hadits secara langsung, tapi apa yang diajarkan beliau sebenarnya adalah ajaran untuk menata hati (yang didalam Islam disebut tasawwuf) yang didasarkan pada hadits-hadits yang luar biasa.
Betapa mulianya prinsip ini ya Kawan. Menerapkan nilai Islam dalam kemasan budaya nenek moyang kita yakni Jawa. Sehingga kita tidak lepas hubungan budaya dengan kakek nenek buyut sebagai penduduk Jawa.
Penulis : Azza
Editor : Kurnia

Lihat Juga

Saat Gus Dur Ditanya Kisah Nabi Ibrahim Versi Islam dan Yahudi

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim ketika bermimpi diperintahkan menyembelih anaknya oleh Allah SWT menjadi pelajaran berharga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *